EPISODE1 RECAP. A woman narrates: "It is said that in the beginning, there were two suns and two moons. But day was too hot, and night too cold. All of creation was thrown into chaos, and the people in misery. It was then that a hero appeared and shot one sun and one moon out of the sky with arrows, and brought peace to the world.". TheMoon Embracing the Sun menceritakan kisah cinta Raja Lee Hwon (Kim Soo Hyun) dan seorang peramal bernama Wol (Han Ga In). Lee Hwon dan Wol pertama kali bertemu saat mereka masih remaja. Kala itu, Wol masih bernama Heo Yeon Woo dan dikenal sebagai putri bangsawan. Sedangkan Lee Hwon masih berstatus sebagai Putra Mahkota. Woldikembalikan ke Seongsucheong. Seul terkejut melihat Wol ada di istana. Wol memberi isyarat agar Seul diam lalu mereka berbicara di kamar. Seul menanyakan apa yang terjadi. Ia dengar Wol hilang dalam perjalanan menuju Hwal In-seol dan hal itu membuatnya sangat khawatir. Wol berkata ia hilang kesadaran. ï»żSinopsisGlobal The Moon That Embraces The Sun loading Heo Yeon Woo, yang berumur tiga belas tahun dipilih menjadi Puteri Mahkota Joseon sampai Ibu Suri merencanakan rencana keji melawannya dan dengan diam-diam memerintahkan untuk membunuhnya. Dramasaeguk (periode kuno) produksi Korea bertajuk The Moon Embraces the Sun yang belum lama menyelesaikan tayangannya di negeri asalnya ini menceritakan kisah percintaan rahasia antara seorang raja Dinasti Joseon dengan seorang gadis yang berprofesi dukun atau cenayang. Diangkat dari novel yang berjudul sama oleh Jung Eun-gwol yang juga membuat novel Sungkyukwan Scandal. DramaThe Moon Embracing the Sun / The Moon that Embraces the Sun (핎넌 품은 달) merupakan drama kerajaan garapan MBC yang pertama kali ditayangkan pada 2 Januari 2014 dengan total 20 episode. Drama Korea terbaik ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jung Eun Gwol, serta disutradarai oleh Kim Do Hoon dan Lee Sung Joon dan ditulis naskahnya oleh Jin Soo Wan yang juga menulis untuk ldbE. The Moon That Embraces the Sun Contents 1 Details 2 Synopsis 3 User/Viewer Ratings 4 Cast 5 Production Credits 6 Notes 7 Recognitions 8 Episode Ratings 9 External Links Details Title 핎넌 품은 달 / Haereul Poomeun Dal Also known as The Moon Embracing the Sun / The Sun and the Moon Tagline Don’t come close! But don’t go far
 Genre Saeguk, romance, fantasy, melodrama Episodes 20 Broadcast network MBC Broadcast period 2012-Jan-04 to 2012-Mar-15 Air time Wednesday & Thursday 2155 Original Soundtrack The Moon That Embraces the Sun OST Synopsis The Moon That Embraces the Sun tells the story of a secret love between Lee Hwon, a fictional king of Joseon, and Wol, a female shaman. Wol was born as Heo Yeon Woo, the daughter of a noble family who won the love of the then crown prince, Hwon. Her enemies, jealous of her family's position in court, schemed against her and wrestled away her rightful place as crown princess and nearly takes her life. Years later, an embittered Hwon meets Wol, now a female shaman who has no recollection of her past. User/Viewer Ratings Cast Main Cast Kim Soo Hyun as Lee Hwon Yeo Jin Goo as Hwon 15 year old Han Ga In as Heo Yeon Woo / Wol Kim Yoo Jung as Yeon Woo 13 year old Jung Il Woo as Prince Yang Myung Lee Min Ho as young Yang Myung Kim Min Seo as Yoon Bo Kyung Kim So Hyun as young Bo Kyung The Palace Kim Young Ae as Queen Dowager Jung Hui Ahn Nae Sang as King Sung Jo Lee Hwon's father Kim Sun Kyung as Queen So Hye Lee Hwon's mother Nam Bo Ra as Princess Min Hwa Lee Hwon's sister Jin Ji Hee as young Princess Min Hwa Jung Eun Pyo as Hyung Sun Song Jae Rim as Kim Chae Woon Lee Won Geun as Woon 15 years old Yoon Hee Suk as Hong Gyu Tae Kim Ye Ryung as Lady Park Yang Myung's mother Seo Hyun Chul as Shim San Lee Seung Hyung as Han Jae Gil Choo Gwi Jung 추귀정 as Court Lady Jo Kim Min Kyung as Court Lady Min Kang Chan Yang as palace maid Lee Jung Hoon as Oh Hye Sung Hong Hyun Taek as royal prince cameo, The Sungsuchung Jun Mi Sun as Jang Nok Young Kim Ik Tae as Hye Gak Bae Noo Ri as Jan Shil Jo Min Ah as young Jan Shil Jang Young Nam as Ali cameo, Heo Family Sun Woo Jae Duk as Heo Young Jae Yeon Woo and Yeom's father Yang Mi Kyung as Shin Jung Kyung Yeon Woo and Yeom's mother Song Jae Hee as Heo Yeom Siwan as Yeom 17 years old Kim Jin Woo as Yeom 4 years old Yoon Seung Ah as Seol Seo Ji Hee as young Seol Yoon Family Kim Eung Soo as Yoon Dae Hyung Bo Kyung's father Jang Hee Soo as Mrs. Kim Bo Kyung's mother Kim Seung Wook as Yoon Soo Chan Others Park Jin Seo Gi Yun Ho Lee Joong Yul So Hee Jung Lee Young Suk Huh Jung Bum Cha Young Ok Gong Jae Won Han Chun Il Seo Kwang Jae Jung Mi Ae Production Credits Chief Producer Oh Kyung Hoon Producer Lee Kyung Shik 읎êČœì‹, Moon Jung Soo Director Kim Do Hoon, Lee Sung Joon Assistant Director Hyun Sol Yib Original writing Jung Eun Gwol Screenwriter Jin Soo Wan Notes Based on the novel 핎넌 품은 달 The Moon That Embraces the Sun by Jung Eun Gwol first published December 29, 2005, who is also the author of the novel that Sungkyunkwan Scandal was based on. Recognitions 2013 46th Worldfest-Houston International Film Festival Special Jury Prize for Drama Series 2013 1st DramaFever Awards Drama of the Year Breakthrough Performance Yeo Jin Goo 2012 MBC Drama Awards Drama of the Year Mini Series Top Excellence Actor Kim Soo Hyun Mini Series Top Excellence Actress Han Ga In Popularity Award Kim Soo Hyun Golden Acting Award, Actress Yang Mi Kyung Writer of the Year Jin Soo Wan Child Actor Award Yeo Jin Goo Child Actress Award Kim Yoo Jung Child Actress Award Kim So Hyun 2012 18th Shanghai Television Festival Silver Award for Foreign TV Series 2012 25th Grimae Awards Best Picture Award Kim Sun Il, Jung Seung Woo Best Lighting Director Jun Hong Geun 2012 1st KDrama Star Awards Excellence Actor Award Kim Soo Hyun Special Child Actress Award Kim So Hyun Special Child Actress Award Kim Yoo Jung 2012 5th Korea Drama Awards Best OST Award - "Back In Time" The Moon That Embraces the Sun OST by LYn 2012 4th Pierson Movie Festival Best Child Actor Yeo Jin Goo Best Child Actress Kim Yoo Jung 2012 39th Korea Broadcasting Prizes Best Actor Award Kim Soo Hyun 2012 48th PaekSang Arts Awards Best TV Drama Actor Kim Soo Hyun Best TV Drama 2012 14th Mnet 20's Choice Awards 20's Drama Star Male Kim Soo Hyun 20's Upcoming 20's Yeo Jin Goo 20's Blue Carpet Star Kim Soo Hyun Episode Ratings See The Moon That Embraces the Sun/Episode Ratings External Links Official site News articles 1, 2, 3 ï»żJAKARTA, - Drama Korea terbaru Kim Soo Hyun, It's Okay to Not Be Okay, memang sedang tayang di TVN setiap Sabtu dan Minggu. Namun, Anda juga bisa menyaksikan drakor Kim Soo Hyun lainnya di Viu. Salah satunya drama Korea sejarah, The Moon Embracing the Sun, yang dirilis pada 2012 juga Cara Unik Kim Soo Hyun dan Seo Ye Ji Latihan Dialog di Its Okay To Not Be Okay The Moon Embracing the Sun menceritakan kisah cinta Raja Lee Hwon Kim Soo Hyun dan seorang peramal bernama Wol Han Ga In. Lee Hwon dan Wol pertama kali bertemu saat mereka masih itu, Wol masih bernama Heo Yeon Woo dan dikenal sebagai putri bangsawan. Sedangkan Lee Hwon masih berstatus sebagai Putra Mahkota. Baca juga Sinopsis My Love From Star, Ketika Kim Soo Hyun Menjadi Manusia Alien Suatu hari, Yeon Woo mendatangi istana kerajaan bersama ibunya untuk menghadiri sebuah acara. Ketika acara berlangsung, perhatian Yeon Woo teralihkan kehadiran kupu-kupu berwarna kuning. Dia pun mengikutinya. Di sisi lain, Putra Mahkota Lee Hwon yang dikenal suka melanggar perintah, berusaha kabur dari istana. Skip to content Viu OriginalsDrama KoreaDrama JepangDrama AsiaVariety KoreaAnimeFilmDaftar/Masuk Akun Sinopsis The Moon Embracing The Sun Drama The Moon Embracing the Sun / The Moon that Embraces the Sun 핎넌 품은 달 merupakan drama kerajaan garapan MBC yang pertama kali ditayangkan pada 2 Januari 2014 dengan total 20 episode. Drama Korea terbaik ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jung Eun Gwol, serta disutradarai oleh Kim Do Hoon dan Lee Sung Joon dan ditulis naskahnya oleh Jin Soo Wan yang juga menulis untuk drama Chicago Typewriter. Drama bergenre kolosal ini turut dibintangi sederet aktor ternama. Kim Soo Hyun membintangi drama ini jauh sebelum membintangi drama It’s Okay to Not Be Okay, kemudian drama dan film lainnya, seperti My Love From the Star dan The Producers. Pemeran utama wanitanya, yaitu Han Ga In yang terkenal saat membintangi film Architecture 101. Lalu, ada Jung Il Woo yang juga mengambil peran dalam drama Haechi, serta Kim Min Seo yang juga mengambil peran dalam drama Witch’s Court. Tak hanya itu, yang memerankan kedua peran utama versi muda adalah Yeo Jin Goo dan Kim Yoo Jung saat masih usia belasan tahun. Yeo Jin Goo sekarang sudah menjadi peran utama dalam banyak drama, seperti The Crowned Clown dan Hotel del Luna. Sama halnya untuk Kim Yoo Jung yang baru membintangi drama Backstreet Rookie, dia juga membintangi Love in the Moonlight dan Clean With Passion for Now. Masih banyak pemain top lainnya, seperti Kim So Hyun, Im Si Wan, Lee Tae Ri, Song Jae Rim dan lainnya dalam drama ini! Drama Korea terfavorit ini juga mendapat penghargaan di ajang 2012 48th BaekSang Arts Awards untuk kategori Best Drama dan Best Actor, juga menyabet 8 penghargaan di ajang 2012 MBC Drama Awards. Rating tertinggi didapatkan drama Korea ini yaitu pada episode finalnya yang mencapai loh! Sebelum menonton, yuk simak dulu sinopsisnya! Sinopsis The Moon Embracing the Sun Drama The Moon Embracing the Sun mengisahkan Heo Yeon Woo diperankan oleh Kim Yoo Jung yang masih berusia 13 tahun, putri dari seorang pejabat kelas atas, mengantar ibunya ke istana kerajaan untuk menghadiri upacara perayaan kakaknya, Heo Yeom diperankan oleh Im Si Wan, yang lulus ujian pegawai istana. Di sana, Yeon Woo bertemu dengan Putra Mahkota Lee Hwon diperankan oleh Yeo Jin Goo. Mereka saling jatuh cinta dan Yeon Woo terpilih menjadi Putri Mahkota Joseon. Sebelum mereka menikah, ratu dowager diperankan oleh Kim Young Ae diam-diam memerintahkan seseorang membunuhnya agar dapat menggantikannya dengan Yoon Bo Kyung diperankan oleh Kim So Hyun, putri dari keluarga terpandang, sebagai putri mahkota, demi mendapatkan kekuatan untuk dirinya sendiri. Dia memerintahkan kepala shaman dukun untuk merapal mantra pada Yeon Woo untuk menyerangnya dengan penyakit yang tidak diketahui. Yeon Woo dibangkitkan dari kuburnya, tetapi kehilangan ingatannya. Semua percaya dia sudah mati, termasuk Putra Mahkota Lee Hwon, yang menolak untuk mencintai yang lain. Delapan tahun kemudian, Yeon Woo kembali sebagai dukun bernama Wol diperankan oleh Han Ga In, yang berarti bulan. Sementara itu, sang raja muda diperankan oleh Kim Soo Hyun mulai menyelidiki kematian cintanya setelah melihat Wol yang sudah dewasa. Tapi, dia berjuang melawan waktu karena klan politik sang ratu diperankan oleh Kim Min Seo yang kuat ingin menyingkirkannya dari kekuasaan. Pemeran The Moon Embracing the Sun Berikut merupakan pemeran-pemeran dalam drama The Moon Embracing the Sun Han Ga In sebagai Heo Yeon Woo/Wol Kim Soo Hyun sebagai Lee Hwon Jung Il Woo sebagai Pangeran Yang Myung Kim Min Seo sebagai Yoon Bo Kyung Song Jae-Hee sebagai Heo Yeom Song Jae Rim sebagai Woon Yoon Seung Ah sebagai Sul Kim Young Ae sebagai Ratu Dowager Yoon Nam Bo Ra sebagai Putri Min Hwa Bae Noo Ri sebagai Jan Sil Kim Yoo Jung sebagai Heo Yeon Woo/Wol muda Yeo Jin Goo sebagai Lee Hwon muda Lee Tae Ri sebagai Pangeran Yang Myung muda Kim So Hyun sebagai Yoon Bo Kyung muda Im Si Wan sebagai Heo Yeom muda Tentang The Moon Embracing the Sun Judul drama The Moon Embracing the Sun Dikenal juga dengan judul The Moon that Embraces the Sun, The Sun and the Moon Judul asli Hangul Haereul Pumeun Dal 핎넌 품은 달 Sutradara Kim Do Hoon & Lee Sung Joon Penulis naskah Jin Soo Wan Pemeran utama Han Ga In, Kim Soo Hyun, Jung Il Woo, Kim Min Seo Genre Historical, romance, fantasy, political Tayang di MBC, Viu Pertama kali tayang 2 Januari 2012 Total episodes 20 episode Nonton Streaming / Download The Moon Embracing the Sun Sub Indo di Viu Drama The Moon Embracing the Sun sudah kamu bisa saksikan di Viu untuk mengkuti keseruan kisah cinta Lee Hwon dan Wol. Nonton streaming atau download The Moon Embracing the Sun sub Indo di Viu sekarang! Aktifkan juga Viu Premium agar bisa nonton streaming dan download drama Korea terbaru dan nonton film online sepuasnya. Pastikan kamu juga sudah download Viu di smartphone agar bisa nonton koleksi drakorindo terlengkap, kshow, dan nonton film online dari mana saja, kapan saja. Yuk nonton The Moon Embracing the Sun sub Indo di bawah ini sekarang! About the Author Viu Providing the best and latest Asian content on your screen! Don't miss the best and latest Korean, Chinese, Thailand, Japanese, and of course Indonesian movies and dramas on Viu! Related Posts Yoon tersenyum melihat kedua kakak beradik itu saling menghunus pedangnya. Sebelumnya ia sudah memberitahu Yang Myung kalau ia memberi kepala Hwon untuk Yang Myung. “Apa kau ingin agar aku sendiri yang membunuh Raja?” tanya Yang Myung. Yoon berkata itu perlu dilakukan untuk menunjukkan seberapa besar tekad Yang Myung dan juga untuk membantu semangat para prajurit pemberontak. “Maksudmu aku harus melumuri pedangku dengan darah adikku sendiri baru kau menyetujui aku menjadi raja?” “Sebenarnya, bukankah dinasti Joseon memang dibangun dari pertumpahan darah antar saudara?” ujar Yoon tenang. Yang Myung berkata itu bukan ide yang jelek. Dengan senang hati ia akan menerima saran Yoon. Yoon berteriak agar Yang Myung melakukannya. “Semua dengar, langit menginginkan kematian Raja ini agar ia diganti oleh orang yang lebih layak. Saat ini kita akan mengikuti kehendak langit dan melenyapkan Raja yang tak becus ini! Cepat penggal kepalanya!!” “Mengapa kau ragu?! Cepat bunuh aku!!” Yang Myung teringat perkataan Hwon saat mereka berhadapan untuk pertama kalinya. Waktu itu Hwon memberi kesempatan pada Yang Myung untuk membunuhnya dan menjadi Raja. Tapi Yang Myung tidak melakukannya. Hwon berkata Yang Myung telah menghilangkan kesempatan itu jadi jangan mencari kesempatan lain. Waktu itu Yang Myung berbalik marah memandang adiknya. Namun itu bukanlah akhir percakapan mereka. Yang Myung berkata ia akan menemukan kesempatan lain dalam rencana pemberontakan terhadap Raja. Ia tahu Hwon hanya mengujinya untuk mengetahui reaksi Yang Myung jika pemberontakan itu terjadi. “Katakan padaku apa yang Yang Mulia rencanakan?” tanya Yang Myung. Hmmm
Yang Myung memang pandai. Kembali ke saat ini. Yang Myung dan Hwon saling menatap sementara Yoon terus berteriak-teriak mendesak Yang Myung memenggal Hwon. Yang Myug berteriak mengangkat pedangnya lalu berbalik menyerang para pemberontak. Woon ikut menyerang para pemberontak. Sementara itu Hwon mendapat kesempatan untuk berlari ke tempat yang lebih aman, di depan Jongmyo. Ternyata ini adalah rencana Hwon dan Yang Myung. Ketika Yang Myung menanyakan apa rencana Hwon, Hwon berkata ia hendak memburu orang-orang yang menyebabkan kematian Yeon-woo. Orang-orang yang menggunakan kematian Yeon-woo untuk mempertahankan kekuasaan. Orang-orang yang mengorbankan nyawa orang tidak bersalah dan hanya mementingkan kepentingan mereka daripada kepentingan negara dan rakyat. Ia akan menyapu bersih semuanya dalam satu serangan. Yang Myung berkata orang-orang itu tidak akan diam saja. Hwon berkata ia sudah tahu. Jika ia terus menekan mereka dengan menyelidiki kematian Yeon-woo, mereka pasti akan mengadakan pembereontakan dan mereka pasti akan mencari Yang Myung. Yang Myung bertanya apa yang Hwon inginkan darinya. Hwon menginginkan daftar nama para pemberontak. Jika ia tidak menyingkirkan semua orang itu maka hidup Yeon-woo selamanya dalam bahaya dan negeri Joseon akan menuju kehancuran. Yang Myung bertanya bagaimana bisa Hwon mempercayainya dan mengucapkan kata-kata yang begitu berbahaya menantang Yang Myung membunuhnya. Hwon berkata ia bersedia menempatkan hidupnya dalam tangan kakaknya. Hwon berkata keputusan ada di tangan Yang Myung. Yang Myung dan Woon bergerak ke depan Hwon, menghadapi para pemberontak. Yoon memerintahkan prajuritnya menyerang karena Hwon kekurangan orang. Ia hanya dilindungi Yang Myung, Woon, dan beberapa orang pengawal. Tapi tiba-tiba muncul pasukan dari kiri kanan Jongmyo. Pasukan pemanah dan pasukan pedang. Yoon terkejut. Menteri penjilat berkata itu adalah tentara rahasia Raja dalam novelnya, Raja Seongjo memang membentuk tentara rahasia dan Hwon mengumpulkan tentara itu kembali untuk melawan para pemberontak. Hong Gyu-tae lah yang ditugaskan mengumpulkan para tentara itu. Tambur dipukul. Pintu gerbang dibuka dan lebih banyak lagi pasukan Hwon memasuki istana, mengepung para pemberontak. Gerbang kembali ditutup untuk mencegah para pemberontak melarikan diri. “Perburuan dimulai!!” teriak Hwon. Tambur dipukul. Hwon menghunus pedangnya dan berteriak, “Seraaaaang!!” Pertempuran dimulai. Woon dan Yang Myung ikut maju untuk menghabisi para pemberontak. Menyadari situasinya tak menguntungkan, Yoon berteriak ia akan memberi imbalan besar bagi mereka yang membunuh Hwon dan Yang Myung. Dengan mudah para prajurit pemberontak dikalahkan. Dayang Ratu bergegas memasuki kamar Bo-kyung untuk memintanya mengungsi ke tempat yang aman. Tapi Bo-kyung tidak ada di kamarnya. Di mana Bo-kyung? Sang Ratu berjalan menyeret kain putih menyusuri jalan sepi di istana. Dalam hatinya ia berkata,”Yang Mulia, Ayah
apa kalian akan bertempur sampai akhir? Aku tidak tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya tapi aku tahu poisisiku sebagai Ratu akan diambil dariku. Sejak pertama kali aku melihat Yang Mulia, hanya satu yang kuinginkan. Yaitu hati Yang Mulia. Karena itu sebagai Ratu sampai akhir, aku akan mati sebagai wanita Yang Mulia.” Bo-kyung memasang kain untuk menggantung dirinya dan tersenyum sedih. Tentara pemberontak semakin sedikit. Ketangguhan tentara rahasia memang hebat. Para menteri yang memberontak pun mulai berjatuhan. Melihat itu Yoon memerintahkan agar Yang Myung dibunuh dan daftar nama itu harus diambil. Na Dae-gil mengunus pedangnya tapi ketika melihat wajah garang Yang Myung, ia berbalik ketakutan. Yang Myung menebas punggungnya. Mati. Ia juga membunuh menteri penjilat. “Daftar itu ada di tanganku. Jika kau bisa membunuhku, silakan ambil.” Yoon ditikam dari belakang oleh seorang prajurit Hwon. Dengan marah ia berbalik dan membunuh prajurit itu. Ia melihat sekeliling. Tentaranya sudah dikalahkan. Para sekutunya telah mati. Pada akhirnya hanya ia sendiri, satu-satunya pemberontak, yang masih berdiri di arena pertempuran. Hwon mengambil busurnya dan memanah kaki Yoon. Yoon jatuh tersungkur dan berlutut tapi ia tak mau berlutut pada Hwon. Ia mencabut panah dari kakinya, berdiri dan bergerak maju ke arah Hwon. Yang Myung tak membiarkannya. Ia berlari ke arah Yoon dan menebas perutnya. Inilah akhir hidup Yoon. Pemberontakan berakhir. Semua merasa lega termasuk aku karena semua masih hidup. Hwon dan Yang Myung saling tersenyum. Tiba-tiba seorang prajurit pemberontak berdiri. Hwon melihatnya dan memberi peringatan pada Yang Myung. Yang Myung berbalik. Bukannya membunuh pemberontak itu, ia malah berbalik menatap Hwon yang tertegun. “Yang Mulia, tolong maafkan keputusanku yang egois ini. Hanya boleh ada satu matahari di langit. Mulai sekarang tidak akan ada lagi kekacauan karena diriku.” Yang Myung berbalik menghadap pemberontak itu dan membuang pedangnya. Hwon tertegun. Prajurit pemberontak itu melemparkan tombaknya kuat-kuat hingga tepat menembus tubuh Yang Myung. Aaaaargh nfauhauiffn;hfuyg
awas serangan tuts Fanny!! I can’t get it!!! Pertama, Hwon memiliki panah, mengapa ia tidak langsung memanah pemberontak itu. Kedua, Woon juga tidak bergerak sama sekali. Para tentara Hwon yang begitu banyak tidak ada yang maju. Lalu kenapa pula prajurit pemberontak itu masih berdiri dan berusaha membunuh Yang Myung? Jika Yoon aku masih mengerti karena ia otak pemberontakan ini, tapi seorang prajurit biasa? Apa gunanya ia membunuh Yang Myung di saat ia sendiri terluka dan sekarat dan pemberontakannya sudah gagal??? Terakhir, ini sama saja dengan Yang Myung membunuh dirinya sendiri!! Fkugsyogbsugbsbhi benar-benar tidak masuk akal!!! Tarik nafas dalam-dalam
.hembuskan
.Ok, serangan selesai. Mari kita lanjutkan
 Hwon dan Woon terpana menyaksikan Yang Myung roboh. “Kakak
Kakaaaak!!!!!” Hwon berlari menghampiri Yang Myung. Janshil dan shaman Jang melihat ke langit dari halaman rumah mereka. Dua matahari di langit. Matahari yang satu bersinar sangat menyilaukan lalu berubah menjadi gelap bagai terkena gerhana. Matahari yang masih bersinar menutupi matahari yang sudah mati itu. Tersisa satu matahari. “Oeraboni
,” Janshil terkejut. Matanya berkaca-kaca. Yang Myung berbaring di pangkuan Woon. Ia memuntahkan banyak darah. Hwon duduk di sisinya. Dalam keadaan seperti itu Yang Myung masih bercanda. Ia berkata akhirnya ia bisa berada dalam pelukan Woon dan rasanya sungguh menyenangkan. Woon menangis dan bertanya mengapa Yang Myung melakukannya. “Akhir-akhir ini aku merasa lelah menjalani hidupku yang bebas. Benar-benar membosankan. Satu-satunya hal yang kusesali adalah aku belum melihat Yeom dalam waktu lama.” Hwon menangis melihat kakaknya. Yang Myung menoleh melihat adiknya. “Yang Mulia, kenapa Yang Mulia menangis karena persoalan sepele seperti ini?” “Jangan menangis
aku baik-baik saja
” kata Yang Myung tersenyum. Ia mengeluarkan buku berisi daftar nama pemberontak dari balik bajunya. Buku itu berlumuran darah sekarang. Ia menyerahkanya pada Hwon. Itu buku yang diminta Hwon darinya. “Aku mengerti
aku mengerti
 jadi jangan bergerak. Tabib akan segera datang,” Hwon memohon. “Ada saatnya aku menyalahkanmu yang mendapatkan apapun yang kauinginkan. Jadi aku bahkan menginginkan kedudukanmu. Tapi dibandingkan dengan tahta Raja, teman-temanku dan adikku terlalu berharga bagiku,” Yang Myung menangis. Hwon sangat sedih mendengar kata-kata kakaknya. Keadaan Yang Myung semakin memburuk. Ia memuntahkan banyak darah. Ia mengulurkan tangannya pada Hwon. Hwon menggenggam tangan kakaknya. “Tolong jadilah Raja yang kuat. Selamatkan rakyat negeri ini bersama anak itu Yeon-woo. Hamba akan melihat dari sana,” Yang Myung melihat ke langit. Dalam hatinya ia berbicara dengan ayahnya, “Ayahanda, puteramu datang untuk menemuimu. Semoga di tempat itu ayah tidak akan menjadi Rajaku tapi hanya menjadi ayahku, agar aku bisa memperlihatkan senyum seorang anak. Satu-satunya peyesalanku adalah meninggalkan ibu yang kesepian sendirian.” Yang Myung tersenyum pada Hwon dan mempererat genggamannya. Tiba-tiba ia merasa mendengar suara Yeon-woo remaja, “Apa kau akan pergi ke suatu tempat?” “Aku datang untuk melihat wajahmu terakhir kalinya sebelum aku pergi. Wajah yang jelek. Setelah aku melihat dengan baik, sekarang aku pergi.” Kepala Yang Myung terkulai. Hwon tertegun. “Kakak
.,”panggilnya, Yang Myung diam tak bergerak. Woon menangis. “Kak
.,” panggil Hwon lagi. Ia meraih Yang Myung dalam pelukannya. Hiks
hiks
. “Kakak!! Kakak!! Buka matamu! Aku hanya memerintahkanmu untuk memberikan daftar itu. Aku tidak memerintahkanmu untuk mati!!!” seru Hwon sambil menangis, “Kaaak
Kakak!! Buka matamu
Ini
Ini adalah perintah! Apa kau mengabaikan perintah?!! Kakak
Kakak!! AAAAARRRHHH!! Kakaaak..” Hwon berteriak pilu. Yeon-woo diantar Hong ke suatu tempat. Hong berkata ia sengaja berjalan berputar-putar untuk menghindari mereka diikuti. Sekarang mereka sudah tiba jadi Yeon-woo sudah bisa turun dari tandu. Yeon-woo bertanya mereka berada di mana. Hong berkata Hwon memerintahkannya membawa Yeon-woo ke tempat ini. Ia mempersilakan Yeon-woo untuk masuk dan beristirahat. Yeon-woo masuk. Ia tak mengenal tempat itu. Ibu Yeon-woo berjalan menunduk ke arahnya. Ia terkejut saat ia mengangkat kepalanya dan melihat Yeon-woo. Yeon-woo menangis melihat ibunya lagi. “I
I
bu
” Ny. Shin terpaku melihat puterinya yang dikiranya sudah mati berdiri di hadapannya. Saking terkejutnya, ia awalnya tidak bisa berkata-kata. “Yeon-woo
Apa kau benar-benar Yeon-woo?” tanya Ny. Shin. Yeon-woo menangis dan mengangguk. “Benar-benar, kau adalah Yeon-woo?” tanya Ny. Shin antara terkejut, tak percaya, sedih, dan bahagia. Ia memeluk dan membelai puterinya. “Ibu,” Yeon-woo menangis dalam pelukan ibunya. “Kau masih hidup
kau benar-benar masih hidup..” “Aku minta maaf, Ibu
” Ny. Shin melepaskan pelukannya dan memandangi puterinya. Ia bertanya apakah ini mimpi atau kenyataan. Ia tak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Ia tak menyangka bisa bertemu puterinya kembali. Karena shock, ibu Yeon-woo terduduk lemas di tanah. Ia terus memeluk Yeon-woo seakan takut kehilangannya lagi. Yeom keluar dari rumah. Ia melihat Yeon-woo. Ia terlihat gembira saat melihat Yeon-woo. Yeon-woo memanggil kakaknya. Tapi Yeom tidak berani memandang wajah Yeon-woo. Ia mengajak adiknya membawa ibunya ke dalam. Ny. Shin terus menangis sambil memegangi tangan Yeon-woo. Yeom keluar untuk membiarkan ibunya berbicara dengan Yeon-woo. Ibu Yeon-woo berkata belum lama ini ia melihat seorang gadis yang mirip dengan Yeon-woo. Ia tidak tahu apa kesalahan gadis itu tapi gadis itu dicaci maki oleh banyak orang. Hatinya terluka saat melihat gadis itu dilempari batu. Yeon-woo tahu gadis yang dilihat ibunya adalah dirinya. Ia meminta ibunya beristirahat, mereka bisa membicarakannya nanti. Tapi ibu Yeon-woo tidak au. Ia takut Yeon-woo menghilang lagi saat ia tidur. Yeon-woo meyakinkan ibunya hal itu tidak akan terjadi. Kali ini, ia tidak akan ke mana-mana tanpa persetujuan ibunya. Ibunya mengangguk. Ia berkata ia tidak mengerti apa yang terjadi. Selama 8 tahun ini, puteri yang merawatnya dan selalu berada di sisinya. Tapi ternyata ia terlibat dalam kematian Yeon-woo. Ia tidak bisa mempercayainya. Yeon-woo bertanya apakah kakaknya yang memberitahu. berkata walau Puteri melakukan kejahatan besar tapi sekarang ia sedang mengandung darah daging keluarga Heo. Bagaimana bisa Yeom bersikap seperti ini pada Min-hwa? Dengan kata lain Ny. Shin sudah memaafkan Min-hwa. Yeon-woo keluar menemui kakaknya. Ia bertanya apakah Yeom benar-benar tidak mau melihat wajahnya. Jika Yeom terus menyalahkan dirinya sendiri, ia akan menyesal karena ia telah hidup. Yeom menangis. “Apakah kakak benar-benar ingin aku berpikir begitu?” Yeom membalikkan tubuhnya tapi ia masih tidak berani menatap Yeon-woo. Ia berkata ia telah melakukan dosa besar pada Yeon-woo. Yeon-woo berkata Yeom tidak berdosa apapun padanya. Yeom berkata semua ini terjadi karena dirinya. “Tolong jangan berkata begitu, berbahagialah karena aku tetap hidup.” “Yeon-woo
,” Yeom memeluk adiknya. “Terima kasih karena kau tetap hidup.” “Aku juga berterimakasih karena kakak hidup seperti sekarang.” Akhirnya keluarga Heo berkumpul kembali. Min-hwa terus memandangi baju yang dijahitnya untuk bayinya. Terdengar ketukan di pintu. “Sudah kubilang aku tidak mau makan,” ujar Min-hwa. Terdengar suara pintu dibuka. Min-hwa mengomel, ia mengira dayangnya yang masuk. Ia terkejut saat melihat Yeon-woo membawa baki makanan untuknya. Yeon-woo meletakkan baki itu di meja dan duduk di hadapan Min-hwa. Ia bertanya mengapa Min-hwa tidak mau makan. Min-hwa berkata ia tidak berhak makan. “Jadi kau ingin mati bersama anakmu?” “Tidakkah kau berharap aku mati?” “Tidak, aku berharap Puteri tetap hidup.” Min-hwa menatap Yeon-woo tak percaya. Ia mencoba membunuh Yeon-woo dan sekarang Yeon-woo menginginkannya tetap hidup? “Puteri mencoba untuk membunuhku tapi sekarang aku masih hidup. Ada saatnya aku marah dan mengharapkan Puteri mati. Namun karena kehadiran Puteri, ibuku bisa tersenyum kembali dan kakakku mendapat seorang anak.” Min-hwa masih tak percaya. Ia menuduh Yeon-woo munafik. Ia minta Yeon-woo berteriak padanya dan menyuruhnya mati, dengan demikian ia baru bisa berlutut memohon maaf pada Yeon-woo. “Apa Puteri membutuhkan pengampunanku? Benar, aku akan memaafkan Puteri. Demi kakak dan Yang Mulia yang terluka karena perbuatan Puteri. Demi mereka berdua yang meminta maaf menggantikan Puteri, dan mereka menanggung rasa bersalah yang tidak sepantasnya mereka tanggung. Demi mereka dengan senang hati aku akan memaafkan Puteri. Karena itu, tetaplah hidup,” ujar Yeon-woo tegas. Min-hwa menangis mendengar kata-kata Yeon-woo. Ia mungkin baru menyadari benar akibat perbuatannya, pada Yeom dan pada Hwon.. “Hiduplah dan mintalah maaf untuk diri Puteri sendiri. Jalanilah hukuman untuk menebus kesalahan Puteri. Yang Mulia dan kakakku tidak seharusnya merasa bersalah karena Puteri. Puteri harus melakukannya sendiri.” Yeon-woo menyodorkan sendok pada Min-hwa. Ia meminta Min-hwa tetap hidup untuk menebus kesalahan yang telah dilakukannya. Min-hwa menangis dan pelan-pelan mengambil sendok dari tangan Yeon-woo. Ia menyendok makanan dengan tangan gemetar. “Terima kasih karena kau tetap hidup,” akhirnya ia berkata. “Kalau begitu berikan aku alasan untuk mengatakan hal yang sama,” ujar Yeon-woo menahan tangisnya. Min-hwa mulai makan sambil menangis. Selir Park memanggil-manggil puteranya. Tubuh Yang Myung terbaring kaku di kuil tempat ibunya tinggal. Woon yang membawanya ke sana. “Pangeran Yang Myung, berhentilah bercanda dan buka matamu. Pangeran, jangan tidur lagi. Bukalah matamu dan lihat ibu, ” ujar Selir Park sambil membelai wajah puteranya. “Siapa yang sudah membohongiku? Tidakkah kaulihat ia sedang tersenyum? Bukankah ia masih hidup? Pangeran, kumohon bangunlah. Mengapa kau bercanda? Kau tidak bisa seperti ini, kau akan menakuti ibumu
 Pangeran Yang Myung
” Selir Park menangis. Ia terus mengguncang tubuh Yang Myung dan memintanya bangun. Woon tak tahan lagi dan pergi keluar. Ia melihat ke langit. Tiba-tiba terdengar suara Yang Myung. Woon membayangkan Yang Myung ebrjalan ke arahnya. “Lihat..bahkan hari ini wajah ksatria Woon pun terlihat sedih,” kata Yang Myung sambil tersenyum. “Pangeran Yang Myung..” “Tidak mungkin, baru sebentar saja kau sudah merindukan aku?” Woon tersenyum sedih. Yang Myung tertawa. “Apa Tuan bahagia?” “Tentu saja bahagia. Aku tidak perlu berpura-pura tersenyum lagi. Dan lagi sebenarnya aku tidak suka minum, jadi aku tidak perlu memaksa diri minum-minum lagi. Aku bukan lagi ancaman bagi Yang Mulia. Dan yang paling penting, aku bisa menyimpannya Yeon-woo dalam hatiku selamanya. Apa kau tahu betapa menyenangkannya perasaan itu?” “Bolehkan hamba bertanya satu hal?” “Silakan bertanya,” Yang Myung mengangguk. “Apakah sampai sekarang Tuan masih menganggap hamba sebagai teman?” tanya Woon sedih. “Teman? Kata “teman” selalu terdengar indah.” “Mohon jawab pertanyaan hamba. Apakah tuan datang sebagai teman?” Yang Myung tersenyum, “Tentu saja. Sampai sekarang dan seterusnya kau adalah teman baikku.” Woon terharu. Saat ia menoleh lagi, Yang Myung telah menghilang. Tubuh Bo-kyung terbaring di kediamannya. Ia sudah tak bernyawa lagi dan matanya terbuka makanya dalam novelnya Bo-kyung dikatakan menjadi hantu perawan yang penasaran. Untung ngga ada dalam dramanya ya p. Hwon duduk di sisinya dan menutup mata Bo-kyung. Hwon berjalan lunglai kembali ke kediamannya. Yeon-woo sudah menunggunya dengan wajah khawatir. Yeon-woo menghampiri Hwon. Hwon tak tahan lagi dan menangis dalam pelukan Yeon-woo. Ia menumpahkan seluruh kesedihannya. Kesedihan atas begitu banyak nyawa yang hilang. Neneknya, kakaknya, dan Bo-kyung. Yeon-woo ikut menangis bersama Hwon. Hari baru bagi Joseon. Banyak tempat kosong di aula istana. Hwon berkata mereka harus memulihkan keadaan negeri yang tidak stabil karena peristiwa yang baru terjadi. Mereka harus memperkuat ideologi yang benar untuk negeri ini. Ia juga akan menghukum orang yang bersalah sesuai dengan kesalahan yang dilakukan dan melepaskan orang yang tidak bersalah. Hwon mengumumkan hukuman bagi yang bersalah. Puteri Min-hwa diturunkan dari statusnya dan dihukum menjadi budak. Hukuman itu akan dijalankan setelah Min-hwa melahirkan. Setelah melahirkan, puteri Min-hwa akan dikirim keluar kota dan dijadikan budak. Heo Yeom sebagai suami Min-hwa juga harus dihukum. Ia diperintahkan bercerai dari Min-hwa. Posisinya sebagai uibin dicopot dan harta yang diperoleh dari posisi uibin harus dikembalikan pada negara. Statusnya dikembalikan pada status Yeom sebelum menikah dengan Min-hwa. Yeom diperintahkan menjadi pejabat. Ini sih bukan hukuman ya^^ Shaman Jang seharusnya dihukum penggal tapi karena ia telah melindungi Puteri Mahkota, hukuman itu akan dipikirkan kembali sampai selesainya upacara ritual mungkin upacara ritual untuk orang-orang yang telah mati. Shaman Jang memerintahkan para shaman di Seongsucheong untuk mempersiapkan ritual yang akan dijalankannya. Ia berkata kali ini ia akan melakukannya sendiri. Janshil meminta shaman Jang membawanya. Shaman Jang berkata Janshil harus tinggal di Seongsucheong dan melindungi tempat itu. Janshil menggeleng. Seul tidak ada lagi dan ia tidak bisa menemui Yeon-woo dengan bebas. Yang Myung juga sudah tiada. Ia meminta shaman Jang tidak pergi. Jangan meninggalkannya sendirian. Shaman Jang terharu dan sedih melihat Janshil. Janshil menangis. Ia sepertinya mengetahui shaman Jang tidak akan kembali lagi. Shaman jang menjalankan ritual. Ia menari. “Seul, Ibu Suri, Ratu, Pangeran Yang Myung, Sarjana Heo. Aku membantu kalian semua ke sana. Langit, sebagai orang berdosa, aku memberikan sisa hidupku sebagai persembahan. Kumohon bersihkan semua kemarahan dan energi jahat dari negeri ini. Aku akan menanggung semua kejahatan negeri ini di dalam tubuhku dan membawanya bersamaku menuju dunia berikutnya. Jiwa-jiwa yang malang, lepaskan kemarahanmu dan beristirahatlah dengan tenang.” Shaman Jang mengakhiri ritualnya dengan mengangkat kedua tangannya ke langit. Ia seperti tercekik. “Akhirnya di langit ada sebuah matahari yang penuh harapan. Dan hanya ada satu bulan. Aku harap mereka bisa membuat rakyat negeri ini bermandikan sinar terang. Aku harap semua orang bisa melepaskan kesedihan mereka dan meraih kebahagiaan. Aku bedoa untuk ini.” Shaman Jang tersungkur ke tanah. Ia terlihat kesakitan. Janshil bergegas menghampiri shaman Jang. Ia memanggil ibu angkatnya tapi shaman Jang sudah mati. Janshil menangis sedih. Ia benar-benar ditinggal sendirian. Dan sesuai doa shaman Jang, kebahagiaan pun dimulai. Hwon dan Yeon-woo menikah. Pada malam pernikahan, Hwon terlihat sangat tak sabar melihat dayang menuang teh dengan sangat
sangat lambat. Ia merebut teko teh dari dayang itu dan menyuruh para dayang keluar. Haha
ada yang ngga sabar rupanya. Dayang itu protes, untuk malam pernikahan ada prosesinya. Hwon tidak mau tahu. Ia menyuruh mereka keluar. Dayang itu bingung. Ia berkata kalau begitu ia akan membantu melepas jubah Hwon. Hwon mengelak dan memarahinya. “Kau mau menaruh tanganmu di mana? Bahkan Ratu belum menyentuhnya. Ratu akan membantuku jadi kalian boleh pergi.” Para dayang itu pun keluar. Yeon-woo menarik nafas gugup. Ia terus menunduk. Hwon menatap Yeon-woo dan memintanya mengangkat wajahnya karena semua orang sudah keluar. Yeon-woo mengangkat wajahnya. Hwon menghela nafas lega akhirnyaaaa^^. Hwon menyingkirkan meja dan teko teh. Ia mengulurkan tangannya pada Yeon-woo. Yeon-woo menyambutnya. Siuuuut
Hwon menarik Yeon-woo bergeser mendekatinya. Hwon terus menatap Yeon-woo hingga Yeon-woo salah tingkah. Hwon meraih Yeon-woo dalam pelukannya dan membaringkannya. “Siapa kau? Cepat katakan! Siapa kau sebenarnya?” Hwon menanyakan pertanyaan yang sama seperti ketika ia pertama kali mengetahui Yeon-woo berada di sisinya sebagai Wol. “Hamba adalah wanita Yang Mulia. Dan ibu negeri ini. Heo Yeon-woo.” Hwon tersenyum gembira. Waktupun berlalu. Di istana, dua anak kecil bermain dengan gembira. Yeon-woo sedang minum teh dengan Yeom sambil memperhatikan anak-anak itu bermain. Satu putera Yeom dan satu lagi Putera Mahkota. Yeon-woo mencoba membicarakan Min-hwa dengan kakaknya. Ia meminta Yeom memaafkan Min-hwa. Min-hwa sudah menebus kesalahannya dan Hwon juga sudah mengampuninya. Dayang Min yang selama ini setia membantu Puteri baru saja meninggal. Artinya Min-hwa sendirian di jalan. Yeon-woo meminta Yeom tidak lagi merasa bersalah padanya. Ia berkata yang terpenting adalah putera Yeom yang membutuhkan seorang ibu. Terdengar suara tangisan. Putera Mahkota terjatuh. Yeon-woo segera menghampiri puteranya. Dengan khawatir ia bertanya apakah Putera Mahkota baik-baik saja. Ia memuji putera mahkota anak yang bersemangat. Putera Mahkota tersenyum bangga. Anak Yeom melihat Putera mahkota dan ibunya dengan sedih dan sedikit iri. Hwon menghampiri mereka. Putera Mahkota segera menghampiri ayahnya dengan gembira. Hwon bertanya apakah Putera Mahkota senang bermain bersama Heoi putera Yeom. Putera mahkota mengangguk lalu ia segera beralih pada Woon dan memintanya mengajarinya ilmu pedang. Hwon tersenyum, anaknya lebih suka bersama Woon daripada bersamanya. Woon membawa Putera Mahkota untuk berlatih. Hwon mengusulkan agar Heoi ikut belajar ilmu pedang bersama Putera Mahkota, tapi Heoi berkata ia lebih suka membaca buku. Hehe
persis ayahnya^^ Hwon tertawa. Heoi benar-benar pintar dan senang belajar seperti ayahnya. Sebaliknya Putera Mahkota ceria dan senang bermain, mirip Pangeran Yang Myung. Bahkan ia juga menyukai Woon seperti Yang Myung. Yeom menghibur Hwon, adik kakak biasanya mirip karena itu pasti mirip juga dengan Hwon. Hwon dan Yeon-woo tersenyum. Yeom berjalan pulang bersama puteranya. Ia berlutut dan bertanya pada Heoi apakah ia merindukan ibunya. Heoi bertanya mengapa ayahnya tiba-tiba bertanya begitu. Yeom berkata ia melihat Heoi cemburu melihat kedekatan Putera Mahkota dengan ibunya. Ia berkata Heoi boleh mengatakan yang sejujurnya tapi Heoi hanya menunduk sedih. Beberapa shaman melewati tempat itu. Salah satuya Janshil. Ia terkejut melihat Yeom. Ia bertanya apakah Yeom kakak Ratu. Apakah Yeom mengenal Seol? Yeom bertanya apakah Janshil mengenal Seol. Janshil berkata Seol setiap hari menanyakan perkataan yang sama padanya. “Apakah ia bahagia? Apakah Tuan Muda bahagia? Ia harus bahagia.” Yeom termenung mendengar hal itu. Janshil berkata setiap hari Seol menanyakannya. “Apakah ia bahagia?” Hwon membaca laporan negara di tempat biasa. Di kediaman Yeon-woo. Yeon-woo menatap Hwon. Ia berterima kasih karena Hwon telah mengampuni Min-hwa hukumannya dihentikan. Hwon berkata Yeon-woo tidak perlu berterima kasih untuk itu. “Walau Yang Mulia sudah menolaknya beberapa kali tapi hamba terus memintanya. Mungkinkah hamba telah membuat Yang Mulia marah?” tanya Yeon-woo khawatir. Hwon berkata Yeon-woo mendesaknya demi kepentingan diriya dan Yeom jadi bagaimana bisa ia marah. Yeon-woo tersenyum. Hwon berkata sebaliknya ia yang harus berterima kasih pada Yeon-woo. “Yang Mulia
” “Katakan saja.” “Sebenarnya dengan hati penuh rasa terima kasih, hamba sudah mempersiapkan hadiah di sini untuk Yang Mulia,” ujar Yeon-woo. Hwon teringat sesuatu, “Hadiah?” “Benar,” jawab Yeon-woo tersenyum malu sepertinya ia berencana membalas Hwon dengan berkata hadiahnya adalah dirinya^^. Hwon tiba-tiba berdiri dan berkata ia sangat sibuk hari ini dan banyak laporan yang harus ia baca. Jadi ia harus pergi sekarang. “Tapi laporannya kan di sini,” ujar Yeon-woo bingung melihat sikap Hwon. “Ah, benar juga. Laporan ini seharusnya dibaca di kediamanku. Sebaiknya Ratuku beristirahat lebih awal.” Hwon bergegas pergi tanpa mendengar jawaban Yeon-woo. Para dayang berkasak-kusuk. Mereka juga menyadari keanehan sikap Hwon. Biasanya Hwon tidak akan pergi dari kediaman Ratu sampai kasim Hyung memanggilnya. Mereka bertanya-tanya apakah Hwon sudah mulai bosan dan menyimpan wanita lain di kediamannya. Hwon kembali ke kediamannya. Ia duduk dan berbicara dengan seseorang. “Apakah kau sudah siap?” “Iya.” Suara seorang wanita. Hwon menyuruhnya keluar. Para dayang menggeser pembatas di belakang Hwon dan seorang wanita tua keluar dari kamar tersembunyi di belakang Hwon. Kasim Hyung memperkenalkan wanita itu sebagai guru gayageum di Joseon alat musik petik tradisional Korea, bagi yang sudah menonton Heartstrings pasti tidak asing lagi dengan alat musik yang biasanya dimainkan Gyu-won ini^^. Hwon berkata ia ingin mempertunjukkan kemampuan musiknya sebagai hadiah untuk ulang tahun Yeon-woo. Waktunya tidak lama lagi tapi ia orang yang cepat belajar. Itu menurut Hwon, tapi untuk urusan musik ternyata dia sangat payah hehehe padahal di novelnya Hwon bisa bermain gayageum dengan baik. Ia memetik gayageum dengan sembarangan. Gurunya mana berani memarahi raja jadi ia cuek terus memberikan pelajaran sementara kasim Hyung mengerutkan kening mendengar betapa tidak sinkronnya musik Hwon dan musik gurunya. Hwon kesal karena ia tidak bisa memainkannya dengan baik. Ia melemparkan gayageum itu dan meminta diberi yang baru karena menurutnya gayageumnya rusak. “Ijinkan hamba mengetesnya,” kata kasim Hyung. Hwon tersenyum meremehkan. Kasim Hyung memetik gayageum itu. Ternyata ia memainkannya dengan sangat baik bahkan lebih hebat dari guru gayageum Hwon. Hwon melongo. Kasim Hyung berkata tidak ada masalah dengan gayageumnya. Hehe berarti masalahnya adalah pemetiknya, yaitu Hwon. “Kapan kau mempelajari gayageum?” tanya Hwon. “Hamba tidak pernah mempelajarinya. Saat Yang Mulia mempelajarinya, hamba duduk dan memperhatikan. Hamba berlatih untuk melewati waktu saat hamba sedang bosan.” Kasim Hyung meniup jarinya. Ternyata kasim Hyung jenius musik. “U
untuk melewati waktu
,” gumam Hwon merasa kalah. Ia menyuruh kasim Hyung menghadap tembok. Ckckck
kebiasaan lama tak berubah juga ya. Yeom dan puteranya sedang berjalan-jalan. Yeom merasa diikuti tapi saat ia berbalik tidak ada siapa-siapa di sana. Ia kembali berjalan. Min-hwa yang mengikuti mereka. Ia muncul dari balik tembok dan menangis memperhatikan mereka yang berjalan menjauh. Min-hwa berbalik dan berjalan tak tentu arah. Namun ia melihat Yeom dan puteranya berdiri menunggunya. Ia terkejut. “Yang Mulia sudah melepaskan aku dari status budak tapi aku tidak punya tempat tujuan,” Min-hwa menangis,” Aku hanya ingin melihatmu untuk yang terakhir
.aku sangat merindukanmu.. Aku hanya ingin melihatmu dari jauh lalu pergi.” Yeom diam tak mengatakan apapun. “Ibu?” tanya Heoi. Wajah Min-hwa berubah cerah saat melihat puteranya dan ingin mendekatinya. Tapi ia menyadari ia tidak berhak berada di sana. “Aku tidak akan datang lagi. Aku tidak akan bersembunyi dan diam-diam memperhatikan kalian lagi. Jadi, tolong maafkan aku untuk kali ini saja.” Min-hwa menyedihkan banget ya T_T Min-hwa membungkuk memberi hormat lalu berbalik pergi. Yeom meneteskan air mata dan berlari memeluk Min-hwa. Min-hwa terkejut. “Kupikir, kau tidak akan pernah memaafkanku.” “Aku tidak ingin memaafkanmu. Aku mencoba menghukum diriku sendiri dengan tidak memaafkanmu. Tapi sekarang aku ingin bahagia. Demi putera kita dan demi seseorang yang sudah tiada tapi masih mendoakan kebahagiaanku.” Min-hwa menangis dan memeluk puteranya. Yeom memeluk keduanya. Pertemuan yang mengharukan. Hwon terus belajar gayageum bahkan di atas meja kerjanya. Hong yang memperhatikannya diam-diam tersenyum. Sepertinya Hong sudah naik pangkat menjadi menteri. Hwon bertanya apakah Hong sudah mengerjakan tugas yang ia berikan. Hong berkata ia sudah melakukan kehendak Ratu untuk membatalkan pesta ulang tahun Ratu dan mengirim uangnya ke Hwal In-seol. Perbuatan Ratu menjadi teladan hingga banyak bangsawan yang ikut menyumbang untuk Hwal In-seol. Hwon terus menekan-nekan dan memetik meja dengan serius hehe
.Hong memanggilnya. Ia bertanya apa ada hal yang menyusahkan Hwon. Hwon tersadar, ia segera melipat tangannya dan berkata tidak ada apa-apa. Jangan-jangan Hong berpikir Hwon sudah gila p Yeon-woo merasa bosan dan kesepian tanpa kehadiran Hwon. Seorang dayang menemuinya dan memberitahu kalau Hwon memanggil Yeon-woo ke Istana Bulan Perak. Yeon-woo pergi ke sana. Yeon-woo tersenyum melihat Hwon duduk dengan gayageum di atas panggung kecil. Dayang menyediakan bangku agar Yeon-woo bisa duduk. “Selamat ulang tahun,” ujar Hwon. Yeon-woo tersenyum terharu. Hwon berkata ia mempersiapkan konser musik untuk Ratunya. Walau keterampilannya bukan yang terbaik, ia berharap Yeon-woo menikmatinya. Hwon mulai memainkan gayageumnya. Entah keajaiban entah Hwon memang pintar tapi Yeon-woo terpesona dengan permainan musik Hwon. Hwon sangat bersemangat memetik gayageum hingga satu senarnya putus. Hwon meringis. Yeon-woo cepat-cepat menghampirinya dan memeriksa tangan Hwon dengan khawatir. Tapi tunggu dulu, kenapa gayageumnya masih berbunyi? Hwon tahu ia sudah tertangkap basah. Hwon melirik reaksi istrinya. Yeon-woo tersenyum geli dan hendak kembali ke bangkunya tapi Hwon menahannya. “Tolong lihat padaku saja. Hanya padaku.” Yeon-woo tersenyum. “Hadiahku tidak berhasil dengan baik. Apa kau kecewa?” tanya Hwon. “Tidak, sungguh mempesona.” “Aku tidak bermaksud untuk mempesonamu,” ujar Hwon. Yeon-woo tertawa. Hwon berkata ia sudah mempersiapkan hadiah lain untuk Yeon-woo. “Apakah akan ada kelopak bunga berjatuhan dari atap?” tanya Yeon-woo. Hwon berkata kasim Hyung sudah terlalu tua untuk naik ke atap. Yeon-woo tertawa. “Kalau begitu, apakah akan ada kembang api bertebaran di langit?” Hwon tertawa. “Untuk menyenangkan seorang wanita bagaimana bisa aku mengunakan uang rakyat? Tapi
aku akan memberimu yang lebih baik dari semuanya itu.” Hwon mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir istrinya. Dari kejauhan, kasim Hyung memainkan gayageum dengan penuh perasaan. Happy end^^ Komentar Perasaanku campur aduk saat menonton episode terakhir ini. Ada kesedihan tapi juga ada kebahagiaan. Kematian Yang Myung membuatku frustrasi. Aku tahu ia akan mati seperti novelnya tapi aku tidak menyangka ia akan bunuh diri. Awalnya aku pikir lebih baik ia mati saat ia melindungi Hwon dari Yoon atau pemberontak. Tapi jika itu yang terjadi, Hwon tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Dengan Yang Myung merelakan nyawanya, tidak ada alasan bagi Hwon untuk menyalahkan diri sendiri. And it’s good to see his smile ^^ Kematian Bo-kyung dan shaman Jang juga cukup mengharukan. Tapi akhir hidup mereka sudah bisa ditebak. Akhir bahagia bagi pasangan Min-hwa dan Yeom, Hwon dan Yeon-woo. Akhir drama ini benar-benar mengikuti novelnya. Kecuali bagian gayageum hehehe D Ketika pertama kali melihat episode ini tanpa subs yang lengkap, aku merasakan kekosongan dalam hati begitu drama berakhir. Tapi setelah aku menontonnya untuk kedua kalinya, hatiku terasa hangat. Bukankah ini akhir yang diinginkan semua orang? Bagaimanapun juga pusat cerita ini adalah Hwon dan Yeon-woo. Dan mereka layak mendapatkan hidup bahagia. Hmmm...aku belum rela melepaskan bulan dan matahari. Ottoke??? 99 January 4, 2012October 7, 2022 The Moon That Embraces the Sun Episode 1 by javabeans Premieres abound today, and heading the pack is The Moon That Embraces the Sun, aka soon to be MBC’s great white hope. I had a feeling this drama would come out on top in the ratings, but I had no idea it would be such a clear-cut victory. The Moon That Embraces the Sun drew an impressive 18% premiere rating, while Take Care of Us, Captain brought home a on SBS, and Wild Romance a over on KBS. SONG OF THE DAY 10cm – “Beautiful Moon” [ Download ] Audio clip Adobe Flash Player version 9 or above is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser. EPISODE 1 RECAP A woman narrates “It is said that in the beginning, there were two suns and two moons. But day was too hot, and night too cold. All of creation was thrown into chaos, and the people in misery. It was then that a hero appeared and shot one sun and one moon out of the sky with arrows, and brought peace to the world.” This story is told by the queen dowager Kim Young-ae to one of her vassals, Lord Yoon Dae-hyung. She is the mother to King Seongjo, the current and fictional king. We are somewhere in the middle of the Joseon era, though since this drama is not based on real history, we aren’t given an exact date. The story about the two suns and moons is an illustration of the need for hero in times of trouble, and the queen dowager says meaningfully that they cannot just wait for a hero to appear. A veiled reference, then, to solving their own problems through their own means. She tells Lord Yoon to be the hero, because there can only be one sun in the sky; one must be eliminated. Nighttime. A group of masked men dart through the woods and to a residential neighborhood, dispersing to fulfill separate tasks One man sticks a yellow paper to a wall — a talisman, it looks like — and another buries a yellow pouch in a house’s yard. A frame job, perhaps? One masked intruder readies to assassinate his target in bed, but finds it empty. He’s surprised by a sword to the throat; the victim was prepared. He is identified as Uiseong-gun, or Prince Uiseong, the younger half-brother to King Seongjo. Ah. So here’s the threat the queen dowager needed eliminated, to protect her son’s interests. She had mentioned that the brothers had a good relationship, but in her mind the younger is dangerous, just by virtue of being close to the throne. Someplace else, a woman named Ahri — a shaman — wakes up with a gasp, filled with an ominous feeling. She knows “he” is in danger, and runs off to find him, ignoring the warnings of her shaman friend. Prince Uiseong fights back, although it’s only one of him against four assassins. He fends them off well, but is eventually felled and disarmed. Enter Lord Yoon, who faces him smugly. Uiseong is full of righteous anger, knowing full well that the king, his brother, will believe him over the shifty Lord Yoon. But there’s a solution for that, since Lord Yoon plans to kill him before he gets the chance to say anything. He adds that Uiseong’s good friend will be joining him on the other side, and we see that another nobleman is hanged in his home, a falsified suicide note left on his desk. Uiseong charges, Lord Yoon slices his throat, and the terrified shaman Ahri witnesses this all from just over the wall. She’s spotted and chased through the woods, finding herself cornered at the edge of a cliff. She slips and falls far below. The assassins check the base of the ravine and only find her official red hair sash. Ah, so she’s a palace shaman, part of the department called Seongsucheong. When the others are assembled, the head shaman notes that Ahri is missing, which identifies the runaway. Lord Yoon reports to the queen dowager and assures her that they’ll find Ahri. The queen dowager, oddly, is pleased, saying this is a stroke of fortune. Ahri was formerly a slave to Prince Uiseong’s household, so it’s possible they were involved. What if that woman desired her lover to become king? And what if she was manipulating him through some sort of magical power? It doesn’t matter that it’s not true, since the queen dowager can make all this true with her planted evidence. Furthermore, the head shaman is firmly under the queen’s thumb, and can be trusted to act for them. Uiseong and his murdered friend are labeled traitors, confirmed by the forged letter left at the friend’s house. The deaths are painted as suicides by guilt-stricken conspirators, and King Seongjo Ahn Nae-sang receives this report in disbelief. The head shaman is brought forth to read the symbols on the talisman. She’s been coached to lie, so she tells the king that it’s a call for the sun’s power, which is a poetic way of saying that they aspired to the throne. King = sun. Furthermore, she identifies the charm as Ahri’s handiwork. After wandering the woods, Ahri stumbles onto a path and crumples in the path of a traveling noblewoman’s entourage. The pregnant woman, Lady Shin, hurries to help her and orders Ahri put into the sedan chair. When they approach the city walls, they’re stopped by police officers on the lookout for the escaped traitor. The servant woman recognizes the drawing of Ahri, but the women sense she’s a good person in trouble and feign ignorance. Lady Shin hides Ahri in her skirts and refuses to exit by saying she’s about to give birth any day now and can’t manage. The officer lets them pass. He belatedly sees blood dripping from the back of the chair and orders them to stop. Lady Shin is quick-witted, though, and pretends she’s having baby trouble, and her servant reliably plays along, urging the lady to hurry home. Upon hearing who the lady’s family is, the officer is intimidated into compliance. Ahri is deeply grateful to the lady, and says that her baby girl is as beautiful as the moon. Lady Shin is pleased to hear that she’ll be having the daughter she wished for. As Ahri speaks, she sees visions in her mind’s eye of the child’s future glimpses of the girl being adorned in royal finery, of a moon, of a grave. Ahri is unsettled by the images, but doesn’t share what she saw. But she does fervently promise that she will do whatever she can to protect Lady Shin’s child. Ahri parts ways with the lady, but is soon captured and brought back to the palace, where she is tortured. Lord Yoon asks who the talisman was meant for, but of course she has no clue. She insists she didn’t write it, and when she is called a traitor, she grows righteous in her rage. She tells Lord Shin that if anybody is a traitor, it’s him for conjuring up false crimes. She addresses him so ferociously that Lord Shin is unnerved. Ahri “You think I am the only one who saw, don’t you? You think it will end if you just get rid of me, don’t you? You’re wrong, you villain — Heaven’s Moon was watching you. That man’s blood is not the only thing that soaked into your blade that night. The moonlight of that night seeped inside, too. Wait and see! One day your wicked deeds will be revealed under the moonlight! One day that moonlight will cut your own lifeline!” Ahri is tossed into prison to await execution. Her shaman friend, Nok-young, cries that she was foolish to let love drive her to Uiseong’s house that night. Ahri says neither one of them ever aspired to the throne, and entrusts Nok-young to protect a child in her stead. Being too close to the sun will result in disaster for the child’s entire family, so she must be protected from the sun. She urges Nok-young to protect her, but doesn’t give her a name. The next day, Ahri is taken to be drawn and quartered for her supposed crime. As she lies on the mat, she sees the sun in the sky, diverging into two. Another vision comes to her A smiling boy, a friendly brother, the girl again. She thinks, “Two suns, and one moon. I pray you all will remain safe.” As she dies, a baby is born. Lady Shin gives birth to her second child, named Heo Yeon-woo future Han Ga-in, and coos over the baby with the girl’s older brother, Yeom. Nok-young visits her friend’s grave, remembering her last wish. She looks up at the moon, which morphs into the sun, and when we pan down again, we are years later. At the palace, lavish festivities are prepared. A ceremony is being held today for the young scholars who have passed the civil service examination, who will give their bows to the king and receive a gift from him. Crown Prince Hwon is called to join the proceedings, but he’s not in his room. In a room far from the hubbub, we find a table — set with foods swiped from the main event — where the young crown prince studies a drawing of the palace grounds. He finds Eunwolgak, aka the Silver Moon Building, and sets out with his royal knapsack. Aw, he’s so cute, playing hooky. Lady Shin arrives at the palace with Yeon-woo in tow, her nose buried in a book. Not only is her father, Lord Heo, a high-ranking official who will be present at the ceremony, her brother Yeom is among those being honored. We see that nefarious Lord Yoon has now advanced in position as minister of the interior. There are two friends in particular among the scholars who merit our notice Yeom and Woon which, by the way, means Cloud. Get it?. They have a third friend, Yang-myung future Jung Il-woo, who isn’t here, but together the trio of buddies studied literature under her father. With Prince Hwon missing, one of his guardians sends palace guards to find him quickly. It seems this isn’t the first time Hwon has caused his guards trouble, and they’re eager to find the prince before the king discovers the escapade and has a fit. Meanwhile, the ceremony proceeds, and Lady Shin belatedly realizes that Yeon-woo has wandered off, distracted by a butterfly. Prince Hwon emerges from his hiding place and prepares for his escape over the palace wall. Just as he’s about to jump, though, he sees Yeon-woo wander into the courtyard and is struck dumb, slack-jawed. Ah, puppy love. Hwon falls off his ladder, knocking Yeon-woo to the ground with him. They lay sprawled together for a moment. The moment is marked by a shower of flower petals, and the wind blows away his parasol. They get up and look away awkwardly. Hwon demands, in his best I’m-a-man-almost voice, how she came to be here and is suspicious of her answer. She finds him equally suspicious and intends to call the guards on him — he’s stealing palace goods and trying to escape over the wall. Hwon stops her, stuttering a lame excuse about just looking for an exit. When he grabs his bag, though, everything comes tumbling out — teacup, sweets, calligraphy brush. Adorably, he fumbles for yet another excuse, but Yeon-woo calls out, “Thief!” Palace guards head over toward them, so Hwon grabs her hand and runs, giving us one of the flashes from Ahri’s vision. They escape the guards and stop running. Yeon-woo still intends to report him to the guards, which forces Hwon to tell her the truth to prove he’s not a thief. With a heavy sigh, he confides that he was actually leaving the palace to meet his hyung. Hwon explains that his hyung was born of a different mother, and a warm-hearted person, while in flashback we see two young boys playing in the palace. The brother excelled in his both his studies and martial arts, but because he was the child of a concubine and therefore illegitimate, he was unable to participate in the civil service examination, or advance in career, or even receive his father’s love. Hwon concludes, “The reason he has to live like this is because of me.” He explains that his hyung hasn’t sought him out in a long time, perhaps fearing their father’s anger. So he was on his way to find him himself. Yeon-woo asks why he blames himself, since his brother’s illegitimacy is nothing he could control. She quotes Confucius, and assures him that if his brother is as warm-hearted as he says, he won’t blame him either. Yeon-woo gets a little carried away complaining about the things in Joseon law that don’t make sense, showing a thoroughly egalitarian mindset as she wonders why slaves and aristocrats must be treated so differently. He prods, “Are you saying that the king’s politics are all wrong?” He teases, saying he’s the one who’d better call for authorities. They’re adorable. Yeon-woo pesters him to explain who he is and how he isn’t a thief, but he’s not willing to give up his identity. He almost blurts, “I am Joseon’s
!” but cuts himself off before finishing that thought. Lady Shin has been worried sick, so when she spots Yeon-woo, she grabs her in a relieved hug. Hwon hurries to the guard who’s with her and quietly instructs him not to say a thing, before he can call him “Highness” or otherwise blow his cover. Cute. As she’s leaving, a court lady gives Yeon-woo a note from the “Silver Moon Building’s young master.” Hwon has added the grumpy message that he’s angry and upset and she’d better watch her step when walking around at night. Oh, so cute. Hwon is soundly scolded by the king for his repeated attempts to leave the palace. He explains that all he wanted to do was meet “Yang-myung hyungnim.” He wants to study together while discussing things with his brother, rather than being told not to question anything. The king reacts angrily and punishes him with additional restrictions. The queen dowager meets with Minister Yoon, and the metaphor of the day is bonsai. She indicates the little tree she’s working on, saying that it’s harder than it looks, because if you miss your chance to cultivate a certain form, it becomes increasingly difficult to get the result you want. Hint, hint. Minister Yoon alludes to massive change in their future, a power shift. The queen dowager states that they need to find a proper instructor for the crown prince, because that person will be shaping the future of the nation. Minister Yoon has just the person for the job. The queen, Hwon’s mother, entreats the king to understand the prince and allow Yang-myung to be allowed to move into the palace. The king refuses, and the queen sadly tells Yang-myung’s mother a concubine that the answer was no and offers a few words of consolation. Yang-myung has been traveling and now returns to the capital. In the village, Yang-myung trades some fowl for money to buy his buddies presents and hears of someone selling a cure-all drug, which piques his curiosity. Another figure notes this with interest– it’s Nok-young, who receives the report that the medicine merchants are quacks. As she approaches the crowd, she is struck with Yang-myung’s appearance — for some reason, he reminds of the “two suns” description. Yang-myung sits in the crowd while a girl spouts all sorts of psychic predictions, as though she can tell what ails everybody. It helps that con men signal to each other surreptitiously and give her clues. Yang-myung tells the man next to him that he suffered a leg accident while hunting a boar quite probably lying in order to test out his hunch. Sure enough, when he gets to the front, the supposedly psychic girl prompted by signals declares that he has injured his leg. But then the girl adds, curiously, “I see a light in you.” Nok-young is startled — is this for real, then? The girl describes a beautiful yellow-red light. The quack medicine-dealer continues with the show, but now Yang-myung’s easy demeanor hardens and he accuses them of running a con, and abusing the child. It’s enough to convince the onlookers; they accuse the con artists of a scam and a fight breaks out. Yang-myung grabs the girl, advising Nok-young on his way out to call the palace guards here. Yang-myung runs away with the girl, but soon he’s surrounded by the con artists. The girl is grabbed out of his arms and taken away by the boss — who is then challenged by Nok-young, who demands the child be handed over. Behind her are palace guards. Yang-myung gets beat up for his interference, and the thugs laugh at his claim that he learned swordfighting from an expert. He gets knocked down, and suddenly his wimpy demeanor changes. Getting up easily, he flies at them and takes down the whole crew in a flurry of punches and flying kicks. That night, dressed in nobleman’s clothes, Yang-myung looks over the skyline and mentally addresses the king, telling him he’s returned from his travels safely. He asks for forgiveness, and wonders after the crown prince. Inside the palace, Hwon finds his every step dogged by a whole gaggle of guards, assigned to keep a close watch on him. As he looks up, a shower of flower petals rains down on him, which makes him think of the flowers that fell when he was with Yeon-woo. He muses, “If you knew I was the prince, I’d hear a lot more nagging. Although I suppose I won’t have reason to see you again.” But just then, he sees the flyaway parasol hovering up above in the air. A message? A sign? At home, Yeon-woo rereads the note from Hwon. There are two sayings written there, and while Yeon-woo understands what they mean literally, she puzzles over the actual message. One saying says, “If you draw it, it’s round. If you write it, it’s sharp.” The other one says, “The rabbit lives, the rooster dies.” Yeon-woo is served by a young slave named Seol future Yoon Seung-ah, whose name means Snow. Yeon-woo asks Seol about the rabbit-rooster riddle, and Seol’s prosaic answer is no help “If the rooster dies, who’ll wake us in the mornings?” Outside, Yang-myung comes to Yeon-woo’s house and leaps up onto the wall, where he sits. In the distance he sees Yeon-woo emerging from the house into the courtyard. She holds up the message cloth in the air, then sighs — she’d hoped the moonlight might reveal some hidden characters. But now she starts to put the clues together, excited. It’s not rabbit/rooster, but “Born in the morning, dies in the evening.” And the other clue — what’s round in a drawing, but sharp-edged when you write it? It’s what Hwon had started to say before cutting himself off. He’d declared, “I am this nation’s
” She realizes the answer “
sun.” Ergo, he is the prince. In the palace, Hwon wonders, with hope, if they might be able to meet again after all. At the same time, Yeon-woo sits down in shock and thinks how relieved she is that they won’t have to. And sitting on the wall, Yang-myung thinks, “Good to see you again, Heo Yeon-woo.” COMMENTS All in all, a solid opening. The drama is definitely well-made, with strong acting, wonderful child actors, and gorgeous visual appeal. I can see why it shot to first-place standings off the bat. It wasn’t the most exciting first episode ever, though, and to be honest I found myself thinking that this all seemed very familiar. The players are different, but the political conspiracy, the framed traitors, the illegitimate half-brother, the childhood sweethearts, the birth prophecy — it’s all been done before. And all in fairly recent shows, no less. You can argue that all historical dramas have some configuration of these elements, but the good ones find a way to make them fresh; Moon/Sun’s handling isn’t quite there yet. What makes this drama potentially different rather than Sageuk Remix 2012 is the fantasy aspect, as well as making a young king its focus. Neither has happened yet since Episode 1 was about establishing the world, so I’m definitely eager to see how things unfold from here. I’m still not sure how the fantasy aspect will play into the story, and while it makes me wary, it’s also something I want more of. If you’re going to do it, might as well really go for it. It doesn’t have to be quite as blatant as in Legend, but I think it’s got to be more than just a simple moon-sun symbology, invoked ad infinitum. That could get tiresome. I’m not gonna lie, I was and am a little disappointed that we have to wait for so long — weeks! plural! — to get our adult cast in place, even though I understand why that must be so in sageukland. And if we must have child actors, at least we’re working with some pros, who have accumulated quite a bit of experience in the genre. To wit Playing Hwon is Yeo Jin-gu who has grown up so much! His voice has dropped!, always wonderful in everything he’s done, which includes Tree With Deep Roots, Warrior Baek Dong-soo, Giant, Iljimae, and Ja Myung Go. As Yeon-woo, there’s Kim Yoo-jung who may even have him beat in number of sageuk projects with Kye Baek, Iljimae, Gumiho Tale of the Fox’s Child, Dong Yi, Tamra the Island, and Painter of the Wind on her resumé. And Yang-myung is played by Lee Min-ho — he might want to think about a stage name — who’s done Kye Baek, Thorn Birds and Sungkyunkwan Scandal. I’m sort of trusting that this drama is going to be great once the story really gets going and the adults take over, based on the quality of the execution, the reputation of the novel and its writer, and the strength of its cast. The plot, however, doesn’t have me hooked yet. Taken alone, this episode wasn’t that exciting, but it doesn’t diminish my excitement for the series as a whole. I’m definitely still onboard and looking forward to future episodes. RELATED POSTS Hanboks galore at press conference for Moon That Embraces the Sun Moon That Embraces the Sun releases posters Yoon Seung-ah cast as badass warrior in Moon/Sun drama Jung Il-woo replaces Joo-won in fantasy-sageuk drama Joo-won in contention for Moon That Embraces the Sun Kim Soo-hyun takes the lead in fantasy sageuk romance A sageuk next for Han Ga-in?

sinopsis the moon that embraces the sun episode 10